Sunday, February 23, 2025

Embun Pagi


Azan subuh berkumandang menandakan awal aktifitas telah dimulai. Bagi umat muslim sholat menjadi kewajiban dimana memulai sesuatu dengan kebaikan yaitu bersimpuh dihamparan sajadah menyembah sang pencipta sebagai afirmasi wujud ketaqwaan. Selesai sholat Guntur segera bergegas menyiapkan pakaian, menyiapkan sepatu untuk pergi berolahraga. Olahraga memang menjadi bagian kehidupan yang tak dapat dipisahkan dimana setiap orang pasti menginginkan badan yang bugar dan sehat. 

Dipagi itulah guntur pertama kali bertemu dengan romlah, mereka memang sudah berencana dimalam harinya untuk lari pagi di pusat kegiatan olahraga mengelilingi stadion lapangan sepak bola. Dari kejauhan guratan senyum tipis diwajah romlah nampak terlihat, mereka pun bersalaman. Embun dan rintik air hujan menemani disetiap percakapan kami sembari lari pagi. Mentari yang biasanya menjadi sahabat dipagi hari tak biasanya menyembunyikan sinarnya seolah dia enggan untuk meratapi. Tak apa setidaknya kehadirannya menjadi penghangat diriku menggantikan hangatnya sinar mentari.

Bulir keringat tak terasa jatuh melewati pipi, tak terasa kami sudah berjalan sebanyak sepuluh putaran. Berbagai macam percakapan saling kami lontarkan. Guntur memang terlihat paling aktif karena memang paling banyak melontarkan jenis pertanyaan dan ragam diskusi. Bukan bermaksud untuk mendominasi, itulah salah satu teknik komunikasi yaitu mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi dari lawan bicara. Dari pertanyaan itu aku dapat menyimpulkan bahwa romlah adalah wanita yang teduh. Tidak banyak bicara bila tidak ditanya, memiliki prinsip, dan terkesan malu-malu. Memang seperti itulah moral yang harus dijaga seorang wanita, tidak mudah friendly terhadap laki-laki yang baru dia kenal.

Guntur mengajaknya mengelilingi pusat kegiatan olahraga sembari melihat rumah-rumah adat yang berada dilingkungan sekitar. Tak lama kami beristirahat dipinggir kolam sembari menikmati indahnya alam. Lihat ikan-ikan itu mereka terlihat tenang, tak pernah risau oleh keadaan. Tidak seperti manusia yang tidak pernah merasa puas dan selalu dibelenggu oleh kerakusan. Itulah potret kehidupan ujar guntur sembari meluruskan kaki yang terasa keram.

Mentari pelan-pelan merangkak naik, sinarnya mulai terlihat melalui celah celah kabut yang mulai menghilang. Ayo ikut aku. Guntur mengajaknya untuk menikmati soto dengan ciri khas rempah rempah kuahnya dengan ditaburi gilingan bawang putih dan kerupuk diatasnya. Terasa nikmat apalagi bisa makan berdua dengannya.

Dari pertemuan itu mereka makin intens berkomunikasi. Setiap malam saling tegur sapa walau hanya melalui pesan WA. Entah mengapa selalu ada kerinduan yang hadir dalam jiwa acapkali bila tidak menyapanya. Sebagai manusia dewasa kami tidak pernah mengatakan cinta, hanya persoalan insting saja bahwa kami memang sama sama suka. Kini kami menjadi manusia yang saling melengkapi, mengisi kekurangan satu sama lain. 

Hidup memang tidak ada yang pernah tahu. Semua serba tidak pasti. Tetapi mengenalnya semua sudah takdir tuhan. Tidak pernah sebelumnya terpikirkan bahwa akan saling membutuhkan bahkan saling merindukan. Sudah menjadi kebiasaan bila kami sering diskusi ditengah kesibukan pekerjaan. Terkadang topik masa depan selalu menjadi incaran agar menjadi bahan obrolan. Entah kami saling mencintai atau tidak karena kami tidak mempunyai alasan untuk saling mencintai. Jika cinta kerana sebuah alasan. Karena cantik misalnya, karena tampan misalnya, karena baik misalnya, karena kaya misalnya. Maka ketika semua itu hilang darinya apakah kau masih mencintainya.? Kami selalu belajar untuk menempatkan sesuatu semua karena tuhan. Bila tuhan sandaran kita apapun yang akan terjadi kepada diri kita semua akan baik baik saja. Paham kan sayang 😊

No comments:

Post a Comment

Distorsi Sistem Pendidikan di Indonesia

Saya adalah salah satu orang yang menyukai diskusi, dimanapun saya berada biasanya ada sesuatu yang harus saya gali dari setiap sisi manusia...