Dalam banyak hal manusia pada umumnya memang menyukai sesuatu yang instan. Dari mana asal mula kesenangan terhadap hal instan dan kemudian menjadi budaya ini bermula? Theodore Adorno dan Max Horkheimer pernah melakukan kajian. Hasilnya mereka menyimpulkan, budaya instan dibentuk atas dasar konsumerisme masyarakat. Sosial media juga adalah sesuatu yang bersifat konsumerisme jika dilakukan setiap hari. Saya tidak mengatakan secara keseluruhan bahwa efek dari sosial media itu buruk, perlu kita akui ada juga sisi manfaatnya.
Namun yang saya tekankan disini adalah jika digunakan secara berlebihan atau lebih familiar adalah perilaku scroling yang tanpa kita sadari akan menghabiskan waktu kita bahkan akan merubah paradigma kita berpikir. Atau bahasa keren nya Brainrot (Pembusukan Otak), brainrot hanyalah sebuah istilah yang menggambarkan penurunan fungsi otak akibat kebiasaan konsumsi informasi instan tanpa makna. Secara ilmiah kebiasaan ini mempengaruhi beberapa aspek otak, yang pertama seperti ketergantungan dopamin : yaitu aktifitas digital yang memuaskan secara instan membuat otak terus melepaskan dopamin, sehingga membuat seseorang kecanduan, dan lama kelamaan akan membuat otak membutuhkan banyak stimulus untuk merasa puas. Kedua gangguan Prefrontal Cortex : yaitu bagian otak yang mengatur fokus dan pengambilan keputusan menjadi lemah akibat gangguan terus-menerus. Ketiga Cognitive Overload : yaitu paparan informasi berlebih meningkatkan hormon stres (kortisol), merusak kemampuan memori, dan menyulitkan berpikir mendalam. Keempat Penurunan Neuroplastisitas: yaitu otak menjadi kurang fleksibel untuk belajar hal baru karena jarang dilatih berpikir kritis.
Perilaku atau sikap konsumerisme ini juga menurut Theodore Adorno dan Max Horkheimer didesain dan dibentuk sedemikian rupa melalui pasar. Oleh karena itu, budaya ini jelas lahir dari kehendak kapitalisme. Perkembangannya dipoles sedimikian rupa oleh media massa sehingga menjangkiti pola pikir dan perilaku masyarakat. Melalui mekanisme ini manusia dipaksa menerima kenyataan bahwa dunia ini baik-baik saja. Segala kecepatan, kenyamanan, dan asiknya hidup dalam kemudahan (serba instan) ini adalah hal yang dianggap mutlak baik, tanpa ada yang salah serta tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.
Akibatnya hal ini memicu manusia untuk melakukan perlawanan terhadap suatu proses, bahkan melupakan esensi dari proses. Mengapa ini terjadi? Ya karena sifat enggak sabaran, maunya serba cepat, muncul mejadi kebiasaan. Dalam pandangan Psikolog Swiss German University, Elizabeth Santosa, budaya ini lambat laun mengikis sifat dan karakter berani dan tangguh manusia. Dalam kajian psikologi, ini dikenal dengan istilah shadow effect. Ini merupakan dampak dari berbagai perubahan kebebasan, perkembangan iptek, dan bentuk-bentuk modernitas nyata yang ada ditengah generasi muda saat ini . Oleh karena itu ditengah derasnya perkembangan teknologi digital kita harus membekali diri kita dengan ilmu pengetahuan dan penguatan spiritual agar tidak tersesat menjalani kehidupan ini. Imam Al-Ghazali mengatakan “Ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia melalui kegelapan ketidaktahuan menuju cahaya pengetahuan dan kebijaksanaan”.

No comments:
Post a Comment