Malam itu aku sedang duduk di sebuah kafe yang terletak dipusat ibukota sembari menunggu kedatangan seorang teman. "Kali ini aku difitnah." Ucap seorang pria paruh baya dan sahabatnya yang sedang berdiskusi di seberang meja saya. "Pekan depan saya akan menjalani pemeriksaan kedua dengan tuduhan menggelapkan dana di salah satu kementerian." Dalam hati sahabatnya ini tahu tidak mungkin dia menggelapkan dana di salah satu kementerian, karena tahu betul sahabatnya ini adalah orang yang sangat jujur dan dapat dipercaya.
"Sebetulnya saya tahu, saya hanya tumbal dari kerakusan para oligarki dan elite politik." Namun tidak apa-apa, saya ikhlas menerima semua segala tuduhan ini. "Apalah daya kita tidak memiliki kekuatan untuk melawan mereka. Mereka sangat berkuasa bahkan teramat kuat. Saya hanya berdoa semoga tuhan memberikan mereka hidayah."
Mendengar percakapan tersebut saya sangat tersentuh. Dia memang lemah saat ini, namun agama memberikan cahaya dalam hidupnya. "Mengapa kamu begitu sabar, mengapa kamu tidak membenci mereka, mengapa kamu tidak marah?" Percakapan masih terdengar di meja sebelah. Saya hanya menyimak.
"Saya pengagum Rasulullah, dan saya mengimani ajaran Rasulullah SAW. Memaafkan orang yang telah menzolimi sebelum orang tersebut meminta maaf, itulah contoh sikap mulia." Islam mengajarkan kelemahlembutan bahkan kepada orang yang telah menyakitimu. Teringat cerita Rasulullah SAW, yang diludahi seorang yahudi saat hendak ingin ke masjid. Namun Rasulullah tidak pernah membalas bahkan beliau selalu mendoakan agar yahudi tersebut mendapat hidayah. Benar saja ketika yahudi tersebut sakit, Rasulullah SAW, menjadi orang pertama yang membesuknya. Yahudi tersebut kagum dengan akhlak Rasulullah dan akhirnya yahudi tersebut masuk islam.
"Sebetulnya manusia itu sama dimata tuhan. Mereka yang memiliki kelebihan atau kekuatan, diuji oleh tuhan agar tidak menindas mereka yang lemah. Mereka yang lemah diuji agar bersabar atas sifat tamak dan rakus dari mereka yang kuat." Dari kaduanya, siapa dari mereka yang dapat mengambil hikmahnya merekalah manusia yang beruntung.
"Islam pada hakikatnya mendidik manusia agar menjadi makhluk sempurna. Ketika ada seseorang ada yang menyakitimu, mengecewakanmu, menzolimi mu, mengkhianatimu, bahkan menfitnah mu, itu sebetulnya cara tuhan untuk mendidik menjadi manusia sempurna. Karena itu islam hadir dimuka bumi ini sebagai Rahmat bagi semesta alam."
"Kedua sahabat itu saling tatap, dan tidak lama beranjak pergi dari meja sebelah saya." Saya yang menunggu kehadiran teman tidak juga datang, akhirnya saya mumutuskan membayar bill seorang diri, dan memutuskan untuk pulang.
Disclaimer : nama tempat hanya samaran

No comments:
Post a Comment