Wednesday, July 16, 2025

Distorsi Sistem Pendidikan di Indonesia


Saya adalah salah satu orang yang menyukai diskusi, dimanapun saya berada biasanya ada sesuatu yang harus saya gali dari setiap sisi manusia. Saya yakin bahwa setiap manusia itu memiliki keunggulan dan kemampuan dibidangnya masing-masing yang kita sendiri tidak miliki. Salah satu contoh saya sering melakukan hipotesis dalam sekala kecil yaitu menanyakan secara acak kepada siapapun yang saya kenal dan menanyakan seberapa penting pendidikan dimata mereka. 

Beberapa orang menyatakan bahwa pendidikan tidak terlalu penting bagi mereka, yang terpenting adalah bagaimana cara kita bergaul dengan orang lain dan bagaimana kita membangun networking didalam jaring sosial. Ada juga yang mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia itu memiliki kurikulum yang tidak relevan sehingga banyak orang yang bersekolah atau kuliah tidak sesuai bidang yang dia sukai, atau ketika masuk dunia kerja tidak sesuai jurusan yang dia pelajari. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa pendidikan itu sangat penting karena dengan pendidikan tidak hanya mengajarkan kita ilmu pengetahuan tetapi mengajarkan kita bagaimana berpikir secara terstruktur dan sistematis.

Pernah suatu ketika saya ngobrol dengan ibunda saya, "Bu maaf ya kalo aku belum bisa bahagiakan ibu". Karena kultur yang berlaku didaerah saya sukses diukur dari seberapa banyak pencapaian materi yang berhasil dikumpulkan. Pendidikan tidak terlalu menjadi perhatian khusus karena memang setelah tamat sekolah menengah banyak yang memutuskan untuk merantau mencari penghasilan dan pengalaman. Saya bingung pendidikan sering menjadi bahan pembicaraan diteras-teras rumah, lihat tu si fulan sekolah tinggi-tinggi pulang kampung tidak menjadi apa-apa, lihat tu si fulan tidak sekolah bisa sukses punya banyak uang. 

Bahkan pernah ada yang mengatakan lihat tu Susi Pudjiastuti hanya tamatan SMP bisa jadi menteri. Saya geleng-geleng mendengar pernyataan ini. "Dalam hati saya menggerutu dari seluruh kabinet saat itu yang menjadi menteri yang tamatan SMP hanya satu orang, sisanya lulusan universitas ternama seperti Harvard, Oxford, ITB, UI, UGM". Jadi maksud saya jangan sampai substansi dari pendidikan itu terdistorsi oleh stigma masyarakat bahwa tujuan dari pendidikan itu hanya uang (materi). Memang tidak ada yang menjamin dengan berpendidikan tinggi akan menjamin keberhasilan seseorang, namun pendidikan adalah kunci untuk kemajuan sebuah bangsa secara holistik.

Tujuan dari pendidikan itu adalah sebagai pondasi dari sebuah peradaban, karena dengan pendidikan akan melahirkan Critical Thinking (daya nalar), berpikir kritis, dan inovasi, dari setiap individu manusia. Negara yang besar mayoritas memiliki sistem pendidikan yang hebat. Tidak ada negara-negara maju yang memiliki Sumber Daya Manusia yang pandir. Fakta ini dapat kita lihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indonesia menempati posisi diangka 112 dari seluruh negara di dunia. Komponen penilaian ini memiliki tiga indikator : pertama angka harapan hidup, kedua pengetahuan atau pendidikan, dan yang ketiga adalah standar hidup layak.

Dari data ini kita bisa melihat bahwa negara kita jauh tertinggal dari negara-negara lain. bahkan dengan negara tetangga seperti malaysia pun kita jauh tertinggal. Padahal dulu malaysia pernah mengimpor guru dari Indonesia sebagai tenaga pendidik. Skor PISA (Programme for International Student Assessment) kita saja peringkat 70 dari 80 negara di dunia. PISA ini adalah sebuah studi Internasional yang bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan di berbagai negara dengan menguji kemampuan membaca, matematika, dan sains pada siswa berusia 15 tahun.

Persoalan sistem pendidikan di republik ini memang harus kita akui masih banyak kekurangan, misalnya sering terjadinya perubahan kurikulum. Tiap ganti presiden ganti kebijakan, ganti menteri ganti kebijakan, yang pada akhirnya membuat rakyat bingung. Sistem pendidikan tidak dibangun secara berkala dan berkelanjutan, yang ada hanya ego sektoral pemangku kebijakan. Saya ambil contoh pendidikan di Finlandia menjadi kiblat pendidikan nomor satu di dunia karena sistem pendidikan mereka dibangun berdasarkan spirit kebersamaan untuk kemajuan. Setiap masyarakat harus mendapatkan pendidikan yang layak, dukungan pemerintah terhadap rakyat pun benar-benar terasa, mulai dari makan sehat gratis, infrastruktur sekolah, fasilitas, tenaga pengajar memang betul-betul diberikan yang terbaik. Tidak heran jika hasil pendidikan yang dihasilkan pun berkualitas.

Lalu apa dampak buruk dari lemahnya pendidikan suatu negara, dampaknya sangat struktural contohnya bangsa kita akan menjadi banga yang lemah tidak mampu bersaing dikancah dunia global, ketergantungan dengan negara lain, dan pada akhirnya kita tidak akan pernah menjadi bangsa yang berdaulat diatas kaki sendiri. 




Tuesday, July 15, 2025

Spiritual Sebagai Benteng Jiwa

Manusia tidak terlepas dari sifat hilaf dan salah, pernah gak kalian berpikir bahwa apa yang kita inginkan, apa yang kita harapkan selama ini belum tercapai. Sebagai contoh ketika ada anak muda yang baru lulus Sekolah Menengah Atas ingin melajutkan studinya ke perguruan tinggi tetapi belum diterima di jurusan atau Universitas yang diharapkan, sedangkan sejak dibangku sekolah mereka selalu rajin belajar, latihan mengerjakan soal, disiplin, tetapi belum diterima. Ada juga kisah perjalanan seseorang pebisnis yang gagal berkali-kali sebelum pada akhirnya mereka mengalami keberhasilan yang luar biasa. Saya jadi teringat perjalanan hidup seorang tokoh sastra legendaris yaitu Joanne Kathleen atau lebih dikenal J.K Rowling, ya dia adalah penulis dari buku yang berjudul Harry Potter, siapa yang tidak mengenal serial buku atau film ini. Dari kalangan anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa tahu. 

Namun sebelum sukses seperti sekarang, siapa yang menyangka bahwa wanita kelahiran 31 Juli 1965 ini pernah mengalami hidup yang sangat sulit terlunta-lunta karena miskin. Setelah dia bercerai akhirnya dia melanjutkan hobi menulisnya ini sehingga terbitlah bukunya seperti yang kita kenal seperti sekarang ini. Perlu diketahui perjalanan kehidupannya tidak semudah yang kita bayangkan, bahkan J.K Rowling pernah menjadi pengajar bahasa Inggris.

Naskah Harry Potter yang ditulisnya ini pernah mengalami penolakan dari berbagai penerbit. Penerbit menjelaskan bahwa buku ini terlalu panjang untuk dibaca, bahkan dianggap alur ceritanya tidak begitu menarik. Namun J.K Rowling tidak menyerah, hingga pada akhirnya pada tahun 1997 perjuangan wanita tangguh ini membuahkan hasil karena ada yang ingin menerbitkan bukunya. 

Awalnya buku yang terjual masih sedikit, namun lama-kelamaan buku ini makin dikenal oleh banyak orang. Bahkan sampai pernah terjual lebih dari 500 juta eksemplar dan diterjemahkan ke 80 bahasa. Kekayaan J.K Rowling berdasarkan informasi yang di publish oleh New York Time pernah mencapai 1.2 miliar dollar atau sekitar Rp.17,7 Triliun. Namun setiap orang tidak memiliki daya juang yang sama dalam pertarungan kehidupan ini, cerita diatas hanyalah simbol dari beberapa contoh kisah perjalanan hidup orang-orang yang sukses. 

Kebanyakan manusia tidak kuat menjalani proses, tantangan dan cobaan hidup, bahkan memilih berhenti ditengah jalan terhadap sesuatu yang pernah dia mulai. Tidak sedikit pula yang terus berlarut-larut dalam kesedihan disaat kondisi sedang sulit, bukan malah berpikir bagaimana cara dan solusi agar dapat kembali bangkit. Ketika kita mengalami kondisi seperti ini diperlukan kekuatan langit dan libatkan Allah SWT untuk terus berjuang mendapatkan apa yang kita inginkan. 

Mengapa saya mengatakan demikian? Karena tidaklah seseorang menemukan ketenangan jiwa kecuali mendekat kepada Rabbnya. Kekuatan spiritual sangat dibutuhkan dalam keadaan dan kondisi sulit. Menurut penelitian, bahwa agama dan keyakinan memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap kesehatan mental. Maniampra menyatakan bahwa agama dan keyakinan (spiritual) merupakan bagian dari "faktor budaya paling penting yang memberikan struktur dan makna pada nilai-nilai, perilaku, dan pengalaman hidup manusia". Ia juga menemukan bahwa banyak lembaga kesehatan dunia juga merujuk dan memanfaatkan nilai-nilai agama dan keyakinan untuk meningkatkan kesehatan mental.

Rusdin S. Rauf didalam bukunya yang berjudul “Quranic Law Of Attraction” menjelaskan bagaimana dahsyatnya kekuatan hukum ketertarikan. Sederhananya seperti ini, segala sesuatu yang kita pikirkan dengan segenap perhatian, energi, dan konsentrasi pikiran, baik hal yang positif maupun hal yang negatif, akan datang kedalam kehidupan kita. Saya ambil contoh, pernah gak kalian mengalami ketika waktu pagi mengalami mungkin kesal dengan anak, dengan pasangan, atau dengan orang lain. 

Kemudian ketika anda berangkat ke kantor dalam keadaan kesal maka tubuh anda akan dipengaruhi oleh pikiran anda, mungkin saja didalam perjalanan anda akan mengalami kemacetan, di kantor anda bertengkar dengan rekan kerja, dimarahi oleh atasan dll. Efek tersebut biasanya akan berlanjut sampai seharian penuh. Berbeda halnya apabila anda sejak bangun pagi sudah merasa ceria, bangun sholat subuh, olahraga pagi, membantu istri mempersiapkan perlengkapan anak pergi kesekolah. Dampaknya walaupun anda terjebak macet dijalan, berselisih paham dengan rekan kerja di kantor, bahkan dimarahi oleh atasan, anda akan merasa baik-baik saja dan akan menyelesaikan tanggungjawab tersebut dengan sukarela.

Itulah hebatnya bagaimana kekuatan hukum ketertarikan akan bekerja sesuai prasangka kita. Makanya didalam Islam kita selalu dianjurkan untuk selalu berprasangka baik dengan siapapun dan hal apapun. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda “Allah Ta’ala berfirman : Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku”. Sebagaimana juga dituliskan oleh Michael J. Losier (2007). Hukum Ketertarikan akan memberikan respon apapun yang anda pancarkan dengan mendatangkan getaran (pikiran dan perasaan) yang lebih banyak tak peduli getaran itu negatif ataupun positif. Oleh karena itu ketika kita mendapatkan musibah ataupun cobaan teruslah berpegang teguh pada kekuatan spiritual sebagai benteng jiwa kita. Minimal walaupun belum menemukan jalan keluar dalam sesuatu persoalan minimal jiwa kita tenang terlebih dahulu. Ketika jiwa kita tenang Inshaallah persoalan hidup yang sedang kita alami akan menemukan jalannya sendiri.

Tuesday, July 8, 2025

Selama ini Apa yang Kau Cari?


Kehidupan ini sejatinya memiliki siklus yang terus berulang. Dari tidak ada menjadi ada dan tidak ada lalu kemudian ada. tahukah anda umur bumi saat ini menurut ilmuwan sekitar 4,54 miliar tahun , sedangkan awal kehidupan menurut Amin Setyo Leksono, Ph.D. didalam bukunya yang berjudul “Sejarah Kehidupan (Perspektif Evolusi dan Kreasi)”, menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam manusia pertama atau awal kehidupan dimulai saat terciptanya Nabi Adam. 

Dan sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk (QS. Al-Hijr 26). Manusia berasal dari segumpal darah (QS. Al-Alaq :1-5), dan setelah melewati beberapa tahapan dan sempurna kejadiannya, kemudian dihembuskan kepadanya roh ciptaan Tuhan (QS. Shaad : 71-72). Dari Adam, Tuhan kemudian menciptakan pasangannya (QS. Al-Araf : 189). Dari pasangan inilah manusia berkembang dengan berbagai suku bangsa dan agama. Lalu berdasarkan literatur Arkeologi Al-Quran (Quranic Archeology) Nabi Adam hadir ke Bumi pada akhir Mesolitikum dan awal Neolitikum. Dalam rentang tahun 33.000 SM (Sebelum Masehi), alias sekitar 35 ribu tahun yang lalu.

Dari sini kita dapat melihat bahwa begitu panjangnya kehidupan ini telah ada, sedangkan rata-rata umur manusia hidup dibumi hanyalah 75 tahun. Lalu mengapa kita masih sering lalai, jika kita sudah tahu bahwa hidup ini hanya sebentar. Seharusnya kita menggunakan waktu yang telah diberikan sang pencipta untuk hal-hal yang baik. (Qs. Al-Asr : 1-3) "Demi masa, sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." 

Selain itu lakukanlah sesuatu yang bermanfaat, karena menurut Hadist Nabi Muhammad SAW, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang mampu memberikan manfaat untuk orang lain. Namun masih banyak golongan dari anak-anak muda, remaja, bahkan yang dewasa sekalipun skeptis menjalani kehidupan ini. Kekhawatiran yang berlebihan tentang masa depan menyebabkan menurunnya tingkat produktifitas. Bahkan Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) merilis gangguan kecemasan mental mempengaruhi 301 Juta orang di dunia sepanjang lima tahun terakhir. Dan kemungkinan angka ini akan terus meningkat.

Gangguan kecemasan ini adalah bagian dari buruknya intelektual dan lemahnya spiritual. Tetapi apakah alasan-alasan tersebut menyebabkan hati kita mati lalu memutuskan untuk tidak berbuat apa-apa. Saya rasa itu keliru. Tuhan menciptakan kita dalam keadaan sempurna, maka hiduplah dengan berakal dan mati dengan beriman.

Didalam bukunya Imam Al-Ghazali dituliskan “Ketika kita mati lalu meninggalkan dunia ini, sejatinya ruh kita akan selalu hidup, yang mati hanyalah jasad atau fisik”. Semua perbuatan akan dipertanggungjawabkan dikemudian hari. Lalu apa yang kau cari selama ini? Masihkah kita menyia-nyiakan waktu kita untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, meratapi nasib tanpa ada action, selalu menyalahkan takdir, menyalahkan orang lain. Pikir hidup hanya sekali, maka gunakanlah waktumu sebaik-baiknya.


Sunday, July 6, 2025

DISRUPSI KEHIDUPAN ERA DIGITAL


Saat ini kita sedang mengalami life digitalization era atau era kehidupan digital. Hampir semua kegiatan kita terkoneksi secara digital dan online. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi semua informasi ada di ujung jari, mulai dari informasi lalu lintas, informasi cuaca, informasi antar jemput makanan, baca buku, kuliah, rapat, bahkan pasar tradisional berubah menjadi pasar digital. Semua ada dalam genggaman.


Menurut APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) data pengguna internet pada tahun 2024 meningkat sangat pesat menembus angka 221,56 juta jiwa menyentuh angka sekitar 79,5 % dari total populasi penduduk Indonesia. Kita harus hati hati dengan perkembangan zaman yang begitu cepat. Dunia kompetisi tidak lagi terjadi pada sesama manusia tetapi pada Robot Humanoid yang dilengkapi sistem kecerdasan buatan.

Banyak pengamat mengatakan akan terjadi pengurangan penyerapan lapangan pekerjaan karena korporasi banyak melakukan efisiensi dengan memanfaatkan tenaga robot untuk menekan cost produksi dibandingkan menggunakan tenaga manusia. Apakah ini akan menjadi ancaman? Menurut Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie, mengatakan bahwa permasalahan ini bisa diminimalisasi dengan meningkatkan kemampuan kita dalam dunia digital. Karena bagaimanapun juga manusia tetap akan menjadi Decision Maker (Pembuat Keputusan) dalam banyak bidang. Dan ini yang tidak dimiliki oleh Artificial Intelligence. Sisi emosional kemanusiaan.

Inilah yang seharus nya menjadi tolak ukur kehidupan kita bagaimana kita harus berpikir visioner atau berpikir jauh kedepan memiliki ide besar, melakukan riset, dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Jadi kitalah yang mengendalikan teknologi bukan kita yang dikendalikan teknologi.

Kondisi ini juga yang harus nya mendorong kita bagaimana kita memiliki mental pembelajar, tidak takut salah, berani mencoba, sehingga munculah potensi - potensi terbaik dalam diri kita. Jangan lagi kita bermalas - malasan, kehidupan yang akan datang akan lebih menakutkan, mari kita persiapkan diri kita agar tidak mudah terkalahkan.

Saturday, July 5, 2025

Budaya Instan Perusak Sendi Kehidupan


Pernah kah terlintas dalam benakmu “Kenapa ya hidup begini-begini saja” seakan tidak ada perubahan yang signifikan didalam hidupmu, ditambah diera digitalisasi sekarang ini media sosial menjadi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Menurut Pew Research , lebih dari 69% orang dewasa dan 81% remaja mengakses media sosial setiap hari, dengan lebih dari 90% remaja menggunakannya selama lebih dari 4 jam sehari. Penggunaan sosial media secara terus-menerus dapat merubah struktur otak, fungsi dan perkembangan kognitif. Oleh karena itu akibat dari perubahan struktur otak tersebut banyak kaum remaja tidak menyadari kerusakan tersebut, sebagai contoh adalah : Selalu membanding-bandingkan kehidupan dirinya dengan orang lain, membandingkan pencapaian orang lain, perlu diketahui apa yang kita lihat di sosial media tidak seindah kehidupan realita. Sering sekali manusia terkecoh oleh hal-hal yang fatamorgana. Ingin sukses dengan cepat karena melihat konten kreator, ingin berhasil dengan cara-cara yang mudah tanpa ada proses.

Dalam banyak hal manusia pada umumnya memang menyukai sesuatu yang instan. Dari mana asal mula kesenangan terhadap hal instan dan kemudian menjadi budaya ini bermula? Theodore Adorno dan Max Horkheimer pernah melakukan kajian. Hasilnya mereka menyimpulkan, budaya instan dibentuk atas dasar konsumerisme masyarakat. Sosial media juga adalah sesuatu yang bersifat konsumerisme jika dilakukan setiap hari. Saya tidak mengatakan secara keseluruhan bahwa efek dari sosial media itu buruk, perlu kita akui ada juga sisi manfaatnya. 

Namun yang saya tekankan disini adalah jika digunakan secara berlebihan atau lebih familiar adalah perilaku scroling yang tanpa kita sadari akan menghabiskan waktu kita bahkan akan merubah paradigma kita berpikir. Atau bahasa keren nya Brainrot (Pembusukan Otak), brainrot hanyalah sebuah istilah yang menggambarkan penurunan fungsi otak akibat kebiasaan konsumsi informasi instan tanpa makna. Secara ilmiah kebiasaan ini mempengaruhi beberapa aspek otak, yang pertama seperti ketergantungan dopamin : yaitu aktifitas digital yang memuaskan secara instan membuat otak terus melepaskan dopamin, sehingga membuat seseorang kecanduan, dan lama kelamaan akan membuat otak membutuhkan banyak stimulus untuk merasa puas. Kedua gangguan Prefrontal Cortex : yaitu bagian otak yang mengatur fokus dan pengambilan keputusan menjadi lemah akibat gangguan terus-menerus. Ketiga Cognitive Overload : yaitu paparan informasi berlebih meningkatkan hormon stres (kortisol), merusak kemampuan memori, dan menyulitkan berpikir mendalam. Keempat Penurunan Neuroplastisitas: yaitu otak menjadi kurang fleksibel untuk belajar hal baru karena jarang dilatih berpikir kritis.

Perilaku atau sikap konsumerisme ini juga menurut Theodore Adorno dan Max Horkheimer didesain dan dibentuk sedemikian rupa melalui pasar. Oleh karena itu, budaya ini jelas lahir dari kehendak kapitalisme. Perkembangannya dipoles sedimikian rupa oleh media massa sehingga menjangkiti pola pikir dan perilaku masyarakat. Melalui mekanisme ini manusia dipaksa menerima kenyataan bahwa dunia ini baik-baik saja. Segala kecepatan, kenyamanan, dan asiknya hidup dalam kemudahan (serba instan) ini adalah hal yang dianggap mutlak baik, tanpa ada yang salah serta tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. 

Akibatnya hal ini memicu manusia untuk melakukan perlawanan terhadap suatu proses, bahkan melupakan esensi dari proses. Mengapa ini terjadi? Ya karena sifat enggak sabaran, maunya serba cepat, muncul mejadi kebiasaan. Dalam pandangan Psikolog Swiss German University, Elizabeth Santosa, budaya ini lambat laun mengikis sifat dan karakter berani dan tangguh manusia. Dalam kajian psikologi, ini dikenal dengan istilah shadow effect. Ini merupakan dampak dari berbagai perubahan kebebasan, perkembangan iptek, dan bentuk-bentuk modernitas nyata yang ada ditengah generasi muda saat ini . Oleh karena itu ditengah derasnya perkembangan teknologi digital kita harus membekali diri kita dengan ilmu pengetahuan dan penguatan spiritual agar tidak tersesat menjalani kehidupan ini. Imam Al-Ghazali mengatakan “Ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia melalui kegelapan ketidaktahuan menuju cahaya pengetahuan dan kebijaksanaan”.



Distorsi Sistem Pendidikan di Indonesia

Saya adalah salah satu orang yang menyukai diskusi, dimanapun saya berada biasanya ada sesuatu yang harus saya gali dari setiap sisi manusia...