Monday, March 3, 2025

Revolusi Kebudayaan China


Jauh sebelum era kejayaan seperti sekarang ini, china dalam catatan sejarah ratusan tahun terjebak pada sistem dinasti kerajaan. Dimana raja sebagai penguasa tertinggi, dikelilingi oleh para bangsawan, pendeta, petinggi militer, dan pejabat sipil. Para bangsawan inilah yang menjadi kaki tangan sang raja untuk menindas para kaum proletar. Kaum tani dijadikan alat sapi perah demi memanjakan sang raja beserta antek-anteknya melalui setoran hasil panen para petani, maklum budaya feodal masih mengakar pada waktu itu.


Tidak hanya itu kaum tani juga diwajibkan kerja paksa untuk para bangsawan dan punggawa, membangun istana, tempat ibadah, membuat saluran-saluran dan bendungan, bahkan dalam keadaan perang mereka wajib mengerahkan seluruh kemampuan jiwa raga bahkan kematian sekalipun. Kaum tani menjadi garda terdepan demi kepentingan raja dan para bangsawan.

Atas dasar inilah Mao-Zedong pemimpin komunis china pada saat itu mencanangkan revolusi kebudayaan. China harus kembali pada fitrahnya yaitu sebagai bangsa kontinental, maklum hampir seluruh bagian geografis mereka adalah daratan. Makanya pilihan ideologi komunis yang otoritarian menjadi metodologi untuk mempersatukan mereka. Pada tahun 1960-an revolusi kebudayaan pecah, tidak tanggung-tanggung revolusi tersebut menewaskan kurang lebih 20 juta orang. Orang-orang yang tidak memiliki visi yang sama pada waktu itu dianggap musuh bagi mao dan konsekuensinya adalah kematian.

Salah satu program mao pada waktu itu adalah doktrinisasi. Lin Biao sebagai kepala tentara nasional (Tentara Pembebasan Rakyat) yang sekaligus sekutu terkuat mao, menyusun ratusan kutipan mao kedalam sebuah buku atau lebih sering dikenal sebagai "Buku Merah Kecil." Lin mengharuskan setiap prajurit membaca buku itu dan menekankan pada kepatuhan garis partai dan kesetiaan kepada pemimpin Partai Komunis China (PKC). Status dan citra mao mencapai puncak baru ketika semua orang Tiongkok mempelajari kutipan dan menghafal bagian dari buku itu.

Kejam memang tapi itulah harga yang harus dibayar, merubah paradigma dari feodal ke egalitarian. Yaitu paham kesetaraan dan memberikan hak yang sama bagi siapapun dalam memperjuangkan kehidupan. Kehidupan yang adil TANPA KELAS!

Distorsi Sistem Pendidikan di Indonesia

Saya adalah salah satu orang yang menyukai diskusi, dimanapun saya berada biasanya ada sesuatu yang harus saya gali dari setiap sisi manusia...